Sekilas Perjalanan

Dua bulan setelah ditetapkan dengan Surat Keputusan Uskup Surabaya,  Karina Keuskupan Surabaya terlibat dalam persiapan penanganan situasi tanggap darurat di sekitar lereng Gunung Kelud. Bulan Desember 2007, ketika banjir melanda wilayah Ponorogo, Madiun, Ngawi, Cepu, Bojonegoro dan Lamongan, Karina Keuskupan Surabaya mengkoordinasi bantuan berupa dana dan barang. Bersama jejaring Caritas menyalurkan bantuan 675 paket bahan pangan dan perlengkapan mandi.
 
Karina Keuskupan Surabaya meningkatkan kapasitas anggotanya dengan Peningkatan kapasitas manajemen proyek atau  Project Cycle Management (PCM) dan Financial Management (FM). Bulan November 2008 di Madiun, Karina Surabaya membentuk Jaringan Relawan Tanggap Darurat (Jatadar). Sekitar 70 anak muda dari paroki-paroki se-Keuskupan Surabaya hadir untuk menyediakan diri menjadi relawan. Saat itu juga terbentuklah Sub Divisi Kesiapsiagaan dan Tanggap Darurat (Emergency Response and Preparedness, ERP) yang memiliki jaringan di 7 kevikepan.

Pada bulan Desember 2008 di SDK St. Yosep, Wonokromo, Surabaya, Karina Keuskupan Surabaya membentuk Sub Divisi Pengurangan Resiko Bencana (Disaster Risk Reduction, DRR). Unit tersebut telah memberi pengenalan dan penguatan kapasitas masyarakat di lokasi rawan bencana, di Porong, Sumbersuko, Pare, Blitar, Bayeman, Madiun dan Mojoasem, Lamongan.

Bulan Maret 2009, ketika banjir melanda wilayah Mojoasem, Lamongan, Karina Keuskupan Surabaya mengkoordinasi ribuan paket bantuan. Dan didukung jejaring Caritas menyalurkan 1.050 paket bahan makanan, perlengkapan mandi dan peralatan kerja. Bersamaan itu, meluber pula lahar dingin di wilayah Pare, Kediri, Karina membantu pengadaan air bersih untuk warga yang terdampak bencana.

Bulan Oktober 2009,  saat gempa menguncang Padang, relawan Karina Keuskupan Surabaya bergabung dalam Joint Response Caritas selama 1 bulan. Ketika Gunung Merapi meletus pada November 2010, Karina Keuskupan Surabaya bersama Karina Purwokerto dan dalam koordinasi dengan Karina Keuskupan Agung Semarang membentuk Joint Caritas Dioceses di Griya Tyas Dalem, Rejoso, Klaten didukung oleh Caritas Tanjungkarang dan Caritas Bandung.

Karina Keuskupan Surabaya, dalam Organizational Development (OD), yang diadakan pada Bulan Juli 2009, merumuskan visi menjadi lembaga yang mewujudkan kesejahteraan bersama korban bencana dan memantapkan misi dengan 3 program utama, yaitu Penanggulangan bencana, Peningkatan kapasitas dan Penggalangan dana.

Pada Bulan Mei-Juli 2010, seiring dengan pentingnya pengarusutamaan Pengurangan Resiko Bencana berbasis Masyarakat,  Karina Keuskupan Surabaya mengambil bagian untuk mengarusutamakan pengurangan resiko bencana, dalam kegiatan bersama masyarakat di Dusun Bayeman dan Kasreman, Desa Bayeman, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun yang menghadapi ancaman bencana banjir. Serta warga Dusun Kapasan dan Lestari, Kecamatan Puncu, Pare, Kediri yang menghadapi ancaman banjir lahar / letusan Gunung Kelud.

Tujuan kegiatan ini membekali masyarakat dampingan dengan pengetahuan dan keterampilan berkaitan dengan identifikasi ancaman, pemetaan wilayah bencana, identifikasi kelompok rentan dan identifikasi masyarakat lokal, sehingga masyarakat memiliki ketahanan hidup di daerah rawan bencana. Selain peningkatan kapasitas terhadap para relawan.

Pada tahun 2011-2012, Karina Keuskupan Surabaya, kembali mendapat dukungan dalam program lanjutan Pengurangan Resiko Bencana Oleh Masyarakat (Community Managed Disaster Risk Reduction, CMDRR) di Desa Sumbersuko, Gadungan dan Sumberdono, di Pare. Selain itu, didukung oleh Catholic Relief Services (CRS), Karina Keuskupan Surabaya meningkatkan kapasitas dalam manajemen tanggap darurat pada sektor-sektor teknis yang sudah dikembangkan CRS dan dikontekstualisasikan oleh Karina KWI. Sektor tersebut antara lain: Sphere, Need Assesment, Project Design, Standard Operating Procedure, Logistic dan Finance.

Pada tahun 2012, Karina Keuskupan Surabaya memperjelas rumusan Bidang Kegiatan sebagaimana ditetapkan dalam OD. Kegiatan Penanggulangan Bencana dengan mengarusutamakan Pengurangan Risiko Bencana diprioritaskan di 13 paroki rawan bencana, yaitu: Paroki St. Yosep, Ngawi, Paroki Wilibrordus, Cepu, Paroki St. Petrus, Tuban, Paroki St. Paulus, Bojonegoro, Stasi Lamongan (kawasan rawan bencana banjir); Paroki St. Cornelius, Madiun, Paroki St. Maria, Ponorogo, Paroki St. Paulus, Nganjuk, Stasi Trenggalek (kawasan rawan bencana banjir dan tanah longsor); Paroki St. Mateus, Pare, Paroki St. Maria dan St. Yusup, Blitar serta Paroki St. Petrus dan Paulus, Wlingi (kawasan rawan bencana Gunung Kelud). Pengembangan Kapasitas Sumberdaya relawan dilakukan di semua tingkatan, baik di tingkat Keuskupan maupun Paroki. Sedangkan Pengembangan Jejaring diutamakan dengan organisasi dan donor (Corporate Social Responsibility) peduli bencana, khusunya di Jawa Timur.

Pada tahun 2013, Karina Keuskupan Surabaya, melakukan pendampingan program Pengurangan Resiko Bencana Oleh Masyarakat di Dusun Bukul, Desa Wates, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo. Selain itu, masih didukung oleh CRS, relawan Karina melakukan refreshment  manajemen tanggap darurat tahap lanjutan. Kegiatan Jatadar dilakukan di Madiun (Kevikepan Madiun dan Cepu) serta di Pare (Kevikepan Kediri dan Blitar). Karina Surabaya juga memantapkan jejaring dengan organisasi peduli bencana dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana Propinsi Jawa Timur. Dan terus melakukan animasi pengenalan Karina untuk kalangan mahasiswa, orang muda Katolik dan kelompok kategorial.